Membumikan Kembali Kesusastraan Indonesia*

Print

Sastra merupakan sebuah pengekspresian seni yang merefleksikan warisan budaya leluhur di mana moralitas merupakan salah satu pilar utama. Sastra tidaklah lahir dari sebuah kekosongan. Ia mengada setelah melewati proses yang rumit. Jadi, ketika karya sastra terbit, beredar, dan kemudian dibaca masyarakat, sesungguhnya, di belakang itu, ia menyimpan sejarahnya sendiri.

Pada zaman penjajahan, pengajaran sastra sangat diperhatikan. Tamatan sekolah kolonial menunjukkan kualitas yang menyamai sastrawan Amerika dan Rusia, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, dan Amir Hamzah. Namun, kondisi sastra saat ini sedang berada dalam ekologi yang tidak sehat. Langkanya kritikus dan minimnya apresiasi terhadap perkembangan sastra di tanah air, menunjukkan kurangnya minat masyarakat terhadap sastra. Suasana yang kurang kondusif, kurangnya sarana prasarana dan kesadaran akan pentingnya sastra, keterbatasan dana dan waktu, serta kewajiban membaca karya sastra, bimbingan mengarang, dan apresiasi sastra di sekolah yang terlantar turut menenggelamkan masa kejayaan sastra.

Di Amerika, siswa SMA wajib membaca 6-32 buku sastra dalam 3-4 tahun, sedangkan siswa SMA Indonesia hanya membaca beberapa buku sastra dalam jangka waktu yang sama. Hal ini telah berlangsung selama 60 tahun. Di Jepang, penduduknya memiliki penguasaan bahasa asing yang lemah, tetapi terjemahan karya sastra asing kontemporernya sangat up to date. Karya besar dunia yang terbit 1-2 bulan yang lalu di Amerika dan Eropa, bulan depan sudah beredar terjemahannya di Jepang. Pesatnya perkembangan sastra di Jepang juga didukung oleh daya beli masyarakat yang tinggi.

Di Malaysia, seorang sastrawan yang unggul akan memperoleh Anugrah Sastra Negara bergelar Sastrawan Negara, memperoleh uang tunai sebesar 30.000 ringgit Malaysia, keleluasaan untuk mencipta, kemudahan untuk memperoleh pengobatan gratis di rumah sakit pemerintah, penerbitan karya sebanyak 50.000 eksemplar untuk dibeli negara dan disebarkan ke perpustakaan, sekolah, dan departemen pemerintah, serta penerjemahan karya ke bahasa asing yang diperkenalkan ke dunia internasional melalui diplomasi kebudayaan. Dengan penghargaan yang begitu prestisius, tentu penduduknya terus mengibarkan kreativitas untuk berkarya di bidang kesusatraan.

Namun sayangnya, saat ini, masyarakat Indonesia justru mengarah ke sektor industrialisasi di mana ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertumpu pada studi eksakta dianggap lebih penting untuk digapai. Sastra dianggap hanya memberi manfaat nonmaterial sehingga masih bisa ditunda. Di dalam beberapa institusi formal, sastra disajikan hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Seharusnya, Kementerian Pendidikan Nasional segera melakukan pemetaan untuk menentukan guru bahasa yang memiliki kompetensi dan minat di bidang sastra. Merekalah yang kelak diharapkan menjadi seorang guru yang mampu membawa dunia siswa untuk mencintai sastra.

Kesusastraan perlu dipelajari karena dapat mengasah sensitivitas terhadap estetika dan problematika sosial, memupuk empati, memperhalus nilai-nilai luhur kemanusiaan, menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya leluhur, serta menambah wawasan terhadap berbagai konsep ilmu pengetahuan dan teknologi. Dapat disimpulkan bahwa fokus utama sastra terdapat pada makna, bukan pada ketrampilan berbahasa yang cenderung terisolasi. Namun pada praktiknya, sastra diajarkan bersama bahasa Indonesia. Ketika ditumpangkan dengan bahasa Indonesia, sastra berhenti pada hafalan yang didominasi oleh tata bahasa.

Begitu pentingnya kesusastraan, maka perlu dilakukan upaya untuk menggairahkan minat baca anak negeri terhadap sastra, yakni dengan memberikan bacaan sastra yang representatif untuk anak sejak dini. Anjurkan anak-anak, termasuk diri kita, agar secara teratur menulis dan berkirim surat.

Di lingkup yang lebih luas, minat terhadap sastra dapat ditumbuhkan dengan mentransformasikan karya sastra ke dalam bentuk yang menarik tanpa meninggalkan khasanah nilai-nilai bentuk lamanya. R.A. Kosasih pernah mentransformasikan Mahabarata dan Sri Rama ke dalam komik. PT. Elex Media Komputindo juga pernah menerbitkan komik biografi tokoh dunia. Namun sekarang, komik-komik tersebut kalah bersaing dengan komik luar negeri yang lebih kontemporer. Sebetulnya, sejarah kejayaan komik dapat terulang jika digarap dengan lebih serius.

Alternatif lain adalah menyebarkan booklet dan tabloid sastra secara cuma-cuma. Penulis dapat melibatkan sponsor untuk menyokong dana, sedangkan sponsor dapat mempromosikan produknya kepada masyarakat. Mengangkat karya sastra ke dalam layar lebar terbukti ampuh menarik minat masyarakat, seperti Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang pernah menjadi best seller. Dengan persentase peminat yang cukup tinggi, diharapkan para sineas perfilman dapat memperbanyak produksi film yang berkonsep edutainment. Transformasi cerita rakyat ke dalam film kartun telah dilakukan oleh salah satu merk susu anak yang mengemasnya dalam bentuk kepingan CD di setiap kemasan produk. Beberapa mahasiswa juga berusaha memproduksi game animasi yang mampu menunjukkan lokalitas bangsa dan berbasis edukasi sastra, misalnya serial Imung, karya Arswendo Atmowiloto yang dibuat seperti  detective game dengan level kesulitan yang bertahap. Bintang Hitam, karya Djokolelono dibuat serial game seperti Final Fantasy. Perburuan, karya Pramodya Ananta Toer dibuat adventure game.

Dengan adanya transformasi tersebut, pembelajaran di sekolah diharapkan tidak hanya monoton pada buku teks. Pembelajaran sebaiknya menggunakan permainan maupun media audio visual yang memperhatikan aspek latar belakang sosial, budaya, dan psikologis sehingga bahan yang diberikan tidak terlalu jauh dari minat dan perhatian siswa. Misalnya, ketika menulis cerita pendek, guru harus mampu menghidupkan gairah siswa untuk menulis. Ajak siswa melakukan rekreasi batin keluar kelas. Bebaskan mereka beberapa saat untuk merasakan atmosfer halaman sekolah yang nyaman. Kemudian, minta mereka untuk menuliskannya dalam beberapa kalimat pendek. Lanjutkan rekreasi batin di dalam kelas dengan meminta siswa untuk melakukan perenungan. Setelah selesai, minta mereka untuk mengembangkan kalimat pendek tersebut ke dalam beberapa paragraf. Tahap akhir adalah mengajak siswa untuk melakukan apresiasi bersama. Pada tahap ini, teori apresiasi diberikan secara perlahan. Jadi, metode ini mendahulukan realita di sekitar siswa untuk menarik rasa empati, baru kemudian memberikan teori sastra.

Salah satu sastrawan yang amat peduli dengan kelestarian sastra adalah Taufiq Ismail. Ia telah berjasa besar dalam pendidikan sastra hingga bergelar Doktor Honoris Causa. Ia dan timnya meluncurkan 6 gerakan sastra, yaitu pertama, menerbitkan sisipan “Kaki Langit” di majalah Horison, sebuah ruang sastra yang diperuntukkan untuk siswa SMU. Kedua, melatih guru bahasa dan sastra dalam membaca, menulis, dan mengapresiasi sastra. Ketiga, menghadirkan sastrawan ke SMU agar siswa berdialog dan mendengarkan secara langsung pembacaan karya dari sastrawan tersebut. Kemudian para siswa dituntut untuk menghayati, melakukan dokumentasi dengan penyusunan materi, hingga berkreasi dengan menampilkan sebuah karya sastra, seperti mendongeng, membuat sinopsis, bermain peran, menulis kritik dan esai, serta menulis, mendeklamasikan,  musikalisasi, dan dramatisasi puisi. Keempat, melakukan dialog interaktif antara sastrawan dengan mahasiswa sastra. Kelima, mengadakan lomba mengapresiasi karya sastra. Keenam, mendirikan sanggar sastra untuk menampung kegiatan sastra siswa di luar jam pelajaran sekolah. Konsep yang diterapkan adalah tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan akan suatu hal hanya dengan diberitahu oleh orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dengan hal tersebut. Di sini, siswa dituntut untuk berperan aktif dan kritis.

Menumbuhkan minat terhadap sastra juga harus didukung oleh penyediaan media penyampaian sastra yang memadahi, misalnya perpustakaan. Namun, seiring dengan kemajuan peradaban, masyarakat cenderung malas mengunjungi perpustakaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan inovasi dalam pengelolaan perpustakaan. Masyarakat modern dapat mengakses Virtual Library, yaitu sebuah website cantik yang menampung hasil dari transformasi sastra dalam bentuk digital. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah dapat meminjam buku secara cuma-cuma di perpustakaan keliling maupun di taman bacaan. Buku-buku yang ditampung di sana, harus menyesuaikan permintaan pasar, sedangkan buku lain tetap dipajang sebagai pendukung. Dalam hal ini, pemerintah telah turun tangan dengan melengkapi buku bacaan melalui Proyek Pengadaan Buku Bacaan. Agar banyak pengunjung, perlu dilakukan sosialisasi agar masyarakat mengetahui tentang hasil dari inovasi tersebut, misalnya dengan membuat iklan layanan masyarakat di media massa.

Adanya komunitas sastra juga sangat membantu, seperti komunitas sastra Solo yang pada bulan Mei 2011 mendatang, akan menyelenggarakan Festival Sastra Pawon dengan konsep sastra dan pariwisata. Kegiatan yang dilakukan, seperti diskusi, bedah buku, workshop, dan pagelaran karya. Untuk lebih meningkatkan apresiasi, kita dapat menyelenggarakan berbagai event, seperti kompetisi sastra independen maupun berangkai dengan Indonesian camp yang mengadopsi English camp. Dalam kegiatan ini, para siswa juga dapat saling bertukar pikiran tentang sastra. Mungkin kita bertanya, “Cuma sastra, mengapa harus mengadakan camp?” Pada awalnya, para siswa akan lebih tertantang pada penawaran camp, kemudian selama mengikuti camp, kita dapat memperkenalkan sastra dalam kemasan menarik sehingga mereka berminat terhadap sastra. Inilah kunci dari eksistensi sastra asing di tengah arus peradaban. Jadi, pandai-pandailah berinovasi dalam mengemas sebuah karya sastra agar banyak diminati masyarakat.

***

 

*Karya: Luthfi Kartika Dewi (Juara I Lomba Menulis Artikel Sastra SMA/MA se-Surakarta, HIMPROBSI FKIP UNS, 9 April 2011)