siluet bernama desir*

Print

pukul sepuluh lebih sepuluh. aku serasa selesai menanam rumus kimia dalam benakku. Molekul-molekul itu telah ku pupuk agar bisa ku panen esok hari.
aku mulai merasa lelah. kuletakkan benda-benda yang sudah terlalu sering ku jamah. tubuhku terlentang santai merebah. sayu swara jemu di sebelah bilikku, buat bertanya angin lalu.
aku penat terasa semua melingkar satu persatu-satu datar menyengat. tak memeberontak, hanya memaksaku memutar kembali melodi hangat walau kadang rusak.
aku memakai jaket tikus ku, mendekap erat guling kecil peredam perasaan gigil. kedua kaki ku terasa kuyu, otot-otot betisku menegang, menyudutkan minta diperhatikan.
walau mata mulai terpejam, sinkronasi otak dan hati enggan diam. masih saja berusaha mencari chemistry dalam pelajaran chemistry.
"sudah hentikan, saatnya kau ke peraduan, jangan terlalu dipusingkan. waktu akan terus berjalan ke depan walau kau coba mencuil detak jarumnya, tiada mempan kawan... ia akan terus berputar karena ia pengemban tugas pembawa peradaban. kau harus mengerti, esok masih misteri yang harus minta persetujuan ilahi. tentang Dia atau Kamu, lepaskan dulu, beri mereka sedikit waktu untuk bertahan dari hatimu. sekarang lebih baik bersembunyilah di balik selimut tebalmu, bermimpilah bersama orang-orang penikmat lelah di alam berkah nan barokah. Dan jika Allah memeluknya, maka besok Dia akan membawamu pada inchi peradaban munculnya matahari. sekarang berdoalah, percayalah esok akan baik-baik saja meski kau meragukannya :)" kata sebuah siluet yang bernama desir. dia begitu bijak bukan memilih diksi-diksi terbaik agar pemiliknya mengerti.
si desir pun diam. lalu aku mengajaknya pergi berdormansi ke aura malam.

 

*Karya: Nur Mutiara Sholihah Santosa (Juara 3 Lomba Menulis Puisi SMA/MA se-Surakarta, HIMPROBSI FKIP UNS, 9 April 2011)